Ultimate magazine theme for WordPress.

Tragedi Tambang di Aruta, Tinggalkan Duka Bagi Paguyuban Warga Jabar

0 884
WAROUENG SOELTAN PANJANG

INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Musibah yang menimpa 10 penambang emas di Daerah Sungai Seribu, RT 6, Kelurahan Pangkut, Kecamatan Arut Utara (Aruta), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menimbulkan duka yang mendalam bagi komunitas warga Jawa Barat (Jabar) yang berdomisili di Kobar.

Salah satu tokoh masyarakat Jabar yang juga sebagai Pembina Paguyuban Warga Jabar Banten Lembur Kuring Cabang Kobar yang saat ini menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kobar Dandeni Herdiana, mengatakan secara pribadi ia turut berbelasungkawa atas musibah tersebut, ucapnya saat dikonfirmasi di kediamaanya, Minggu (22/11/2020).

“Tadinya saya mendapat informasi bahwa ada musibah yang menimpa 10 penambang di Kecamatan Aruta. Namun setelah mencermati data yang ada, ternyata mereka berasal dari Kecamatan Selopa, Kabupaten Tasikmalaya, Jabar, saat itu pula saya langsung berkoordinasi dengan pengurus paguyuban,” jelas Dandeni Herdiana.

Menurutnya dari hasil koordinasi antar anggota paguyuban, diputuskan dalam musibah tersebut mereka berpartisipasi membantu dalam hal sosial. “Karena untuk masalah evakuasi dilapangan, tentunya ada instansi yang berkompeten. Dalam hal ini, paguyuban langsung bergerak menghubungi keluarga korban di kampung halaman, mengurus masalah pemakaman dan juga memberikan bantuan bagi keluarga yang ditinggalkan,” terang Dandeni Herdiana.

Dandeni Herdiana juga mengimbau, bila ada waga Jabar atau Banten yang berdomisili di Kabupaten Kobar agar memberitahukan keberadaannya dan bisa memperkenalkan diri pada paguyuban yang ada.

“Sehingga dengan saling mengenal maka bila ada musibah, kami bisa saling tolong sebagai warga sekampung halaman, terus terang keberadaan para pekerja tambang asal Tasikmalaya tersebut, kami ketahui setelah ada musibah ini saja,” jelas Dandeni Herdiana.

Selain itu, lanjut Dandeni Herdiana, dengan saling mengenal antar warga Jabar dan Banten, tentunya paguyuban bisa saling menjaga dan mengingatkan mengenai tingkah laku dan pembawaan diri saat bergaul di Bumi Marunting Batu Aji, tentunya mereka agar bisa membawa diri agar bisa diterima warga asli Kobar.

“Sesuai falsafah paguyuban yaitu silih asah yang berarti saling memperhatikan, silih asih atau saling mengasihi dan silih asuh atau saling mengayomi. Sehingga keberadaan warga Jabar dan Banten yang ada tetap selaras dengan kehidupan masyarakat Kabupaten Kobar dan Provinsi Kalteng,” pungkas Dandeni Herdiana. (Yus)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.