Ultimate magazine theme for WordPress.

Penerimaan Pajak Jeblok, Turun Hampir Rp 200 Triliun

0 82
WAROUENG SOELTAN PANJANG

INTIMNEWS.COM, JAKARTA – Realisasi pajak di semua sektor mengalami kontraksi akibat pandemi Corona yang berkepanjangan. Hingga November, penerimaan pajak baru mencapai Rp 925 triliun atau menukik 18,6% dibanding tahun sebelumnya.

“Tahun 2019 penerimaan pajak pada bulan yang sama sebesar Rp 1.136 triliun. Jadi terjadi penurunan penerimaan pajak tahun ini hampir Rp 200 triliun. Secara persentase penerimaan turun 18% dari target,” ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, Senin (21/12/2020).

Menurut Menkeu, target penerimaan pajak tahun ini baru tercapai 77,2%. Semua sektor mengalami kontraksi dengan angka penurunan cukup tinggi.

Di sektor penerimaan PPh migas terealisasi Rp 29,2 triliun. Sektor ini juga mengalami kontraksi dalam dibandingkan tahun lalu yang pada bulan November mengumpulkan Rp 52,8 triliun.

“Artinya sektor ini terjadi penurunan hingga 44,8%. Kontraksinya sangat dalam,” terang Menkeu.

Untuk pajak non migas adalah Rp 896,2 triliun atau atau turun 17,3% dibandingkan November tahun lalu yang terkumpul Rp 1.083,3 triliun. Rincian pajak non migas, yakni PPh non migas Rp 492,6 triliun, pajak pertambahan nilai Rp 378,8 triliun, pajak bumi dan bangunan Rp 19,1 triliun, dan pajak lainnya Rp 5,7 triliun.

Akibat kontraksi semua sektor ini APBN mengalami defisit. Defisit APBN 2020 per November mencapai Rp 883,7 triliun atau 5,6% terhadap PDB. Sedangkan pendapatan negara mencapai Rp 1.423 triliun atau 63,7% dari target APBN.

Bulan November lanjut Sri sudah mengalami keseimbangan primer defisit di Rp 582,7 triliun. Sedangkan total dari defisit adalah Rp 883,7 triliun.

“Defisit APBN terjadi karena belanja negara lebih besar daripada pendapatan. Belanja negara tercatat Rp 2.306,7 triliun sedangkan pendapatan negara Rp 1.423 triliun,” paparnya.

Angka keseimbangan primer yang menurun atau defisit besar maupun defisit secara keseluruhan Rp 883 triliun menunjukkan kenaikan defisit yang sangat besar dibandingkan tahun lalu.

Sri Mulyani melanjutkan, sampai dengan November sudah melakukan pembiayaan anggaran mencapai Rp 1104,8 triliun. Angka ini naik drastis dibandingkan tahun lalu Rp 421 triliun.

“Ini agak di atas dari Perpres 72 yang sebesar Rp 1.039 triliun atau dalam hal ini terjadi kenaikan 162% dibandingkan tahun lalu yang pembiayaannya adalah sebesar Rp 421 triliun. Dan oleh karena itu sampai dengan November ini kita mendapatkan atau masih memiliki Silpa sebanyak Rp 221,1 triliun,” tambahnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.