Ultimate magazine theme for WordPress.

Penanaman 1.000 Pohon Mangrove dari AMPP Kumai Tandai Peringatan Pertempuran 1946

0 96
WAROUENG SOELTAN PANJANG

INTIMNEWS, PANGKALAN BUN – Peringatan hari Pertempuran 1946 Januari berbagai kegiatan dilakukan oleh Angkatan Muda Penerus Perjuangan (AMPP) Kumai, mulai dari gotong royong, ziarah makam pahlawan, tabur bunga, haul, dan terakhir tanam 1000 bibit mangrove, Minggu (17/1/2021).

Napak tilas peringatan pertempuran 14 Januari 1946 di Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng tahun ini digelar dengan sejumlah kegiatan mulai gotong royong di taman Bahagia Kelurahan Candi, ziarah dan tabur bunga di makam Pahlawan, haul Pahlawan, tabur bunga di pelabuhan Kumai, dan terakhir penanaman 1000 bibit mangrove.

Penamaman mangrove di Dusun Umbang, Desa Sungai Bakau, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Ketua Panitia Peringatan Pertempuran 14 Januari 1946- 2021 Nomy Muttaqin mengatakan, tahun ini peringatan peristiwa bersejarah itu sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya.

“Karena situasi pandemi COVID-19 ini kami tidak bisa menggelar kegiatan yang mengumpulkan orang banyak, maka acara tabur bunga, penyerahan tali asih dan lainnya dilakukan dengan tidak melibatkan banyak orang,” ujarnya kepada INTIMNEWS, Minggu malam.

“Kegiatan penanaman mangrove ini memang rutin digelar Angkatan Muda Penerus Perjuangan 14 Januari 1946 (AMPP) Kumai, dengan tujuan untuk menjaga pantai kita agar tidak tergerus abrasi air laut. Hari ini kita menanam sekitar 1000 bibit mangrove di Pantai Dusun Umbang ini,” kata Nomy Muttaqin.

“Semoga semangat perjuangan para pejuang 14 Januari 1946 semakin dipahami dan diteladani oleh generasi muda untuk membangun negara, khususnya Kabupaten Kobar dan Kecamatan Kumai,” tambahnya.

Menurut Nomy Muttaqin, berdasarkan sejarah, pada 14 Januari 1946 silam terjadi sebuah peristiwa pertempuran antara para pejuang Indonesia di Kumai melawan tentara NICA Belanda yang mencoba kembali menjajah untuk menduduki kawasan Kumai.

Setiap tahunnya atas pertempuran 14 Januari itu selalu digelar peringatan oleh Sekelompok warga Kumai yang tergabung dalam organisasi Angkatan Muda Penerus Perjuangan (AMPP) 1946.

Ia berharap peristiwa 75 tahun silam tersebut diakui sebagai perjuangan nasional dan nenetapkan Panglima Utar sebagai pahlawan nasional.

Harapan ke depan peristiwa 14 Januari 1946 bisa mendapatkan pengakuan secara nasional, karena dilihat dari sejarahnya, bendera merah putih pertama kali berkibar seantero Kalimantan itu adalah di Kumai pada 6 September 1945.

Perjuangan pejuang di Kumai menjadi satu satunya perjuangan di Kalimantan yang membuat Belanda tidak bisa merapat mendarat ke Kumai.

Saat itu pasukan Belanda datang ke Kumai mengunakan lima buah kapal tetapi mereka tidak mampu menepi dan mendarat ke Kumai karena di tembaki oleh pejuang-pejuang di Kumai, Sementara di Sampit, Puruk Cahu dan Jelai, pejuang mampu dikalahkan Belanda.

Jika dilihat sejarah sejarah itu, peristiwa 14 Januari 1946 harusnya disamakan dengan peristiwa 10 November 1946 yang mana Bung Tomo mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional dan semestinya itu juga berlaku untuk Panglima Utar. (yus)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.