Ultimate magazine theme for WordPress.
iklan bupati

Paru-Paru Rusak Akibat Covid-19, Penyebab Direktur RSUD Meninggal Dunia

0 44
WAROUENG SOELTAN PANJANG

INTIMNEWS.COM, SAMPIT – Penyebab wafatnya Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr Murjani Sampit, dr Febby Yudha Herlambang, adalah salah satunya karena paru-parunya rusak. Hal itu disampaikan satuan tugas penanganan Covid-19, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dalam konferensi pers, Senin 30 November 2020.

Dokter Spesialis paru-paru RSUD dr Murjani Sampit, dr Efraim Kendek Biring, menerangkan dalam satu penegakan diagnosa pasien harus melihat angka dan gejala, kemudian disimpulkan penyakitnya, sama juga pada pasien Covid-19.

“Pasien covid yang dikeluarkan tes PCR dilakukan ada dua rangkaian, pertama diagnosa dan selanjutnya evaluasi. Di Rumah Sakit Murjani dr Yudha diagnosa dan hasil positif, dan selanjutnya evaluasi di Rumah Sakit Polri Kramat Jati Jakarta hasilnya negatif. Tapi mau negatif dan positif tidak menurunkan hasil diaknosa sebelumnya. Sekalipun hasilnya negatif, namun ini disebabkan memang terjadi infeksi sangat berat, ini yang membuat kerusakan di organ tubuh walaupun hasil PCRnya negatif,” terang Efraim.

Sementara Koordinator Bidang Pencegahan Satgas Penanganan Covid-19 Kotim, dr Faisal Novendra Cahyanto, menyampaikan duka cita mendalam untuk keluarga almarhum dr Yudha Herlambang, merupakan pasien ke 520 yang gugur pada tanggal 25 pukul 18. 00 Wib di Rumah Sakit Polri Kramat Jati Jakarta Timur.

Dijelaskan, bahwa Kronologis almaruh dari riwayat perawatan dan catatan evaluasi, pertama dilakukan pemeriksaan PCR pada tanggal 16 november 2020 dengan hasil positif. Kemudian yang bersangkutan dirawat oleh tim dokter tanggal 17 november masuk rumah sakit.

Atas inisiatif keluarga di rujuk ke jakarta ke RS Polri Kramat Jati pada tanggal 23 november 2020. Kemudian sampai di rumah sakit dilakukan perawatan dan tes swab PCR tanggal 25 november dengan nomor lab 2020/11/25/ 0342 dengan hasil negatif, jadi setelah 9 hari dari pemeriksaan PCR pertama.

Sedangkan Ketua IDI Cabang Kotim, dr Ikhwan Setiabudi, menegaskan sesuai dengan sumpah dan janji dokter, tidak ada sedikitpun dari mereka membedakan pelayanan kesehatan, baik itu pada teman sejawat maupun masyarakat akan semaksimal mungkin diberikan pelayanan.

“Pasien selalu diberikan yang terbaik, saya yakin kami berjuang karena ibadah.Tidak ada perbedaan pelayanan di rumah sakit, kejadian yang baru kita alami dengan kehilangan teman dan kami tetap kuat dan meminta tolong pada masyarakat kami dibantu,” katanya.

Sementara Kapolres Kotim, AKBP Abdoel Harris Jaki , yang juga sebagai Wakil Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kotim, menyimpulkan bahwa dr Yudha meninggal akibat terpapar Covid-19, yang mengakibatkan kerusakan sebagian besar paru-paru almarhum.

“Pada saat paru-paru tidak memungkinkan lagi untuk menopang hidup virusnya jadi negatif, memang pada saat meninggal dunia hasilnya negatif, itu hal yang sangat mungkin. Sebab berdasarkan data statistik ada 29 orang tidak kurang dari 7 hari dinyatakan negatif,” demikian kata Jakin. (Ilham-BS)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.