Ultimate magazine theme for WordPress.
Satpol PP

Jenazah Anak 12 Tahun Diangkut Pakai Mobil Bak Terbuka, Anggota DPRD Kotim Marah

0 1.588
WAROUENG SOELTAN PANJANG

INTIMNEWS.COM – Diduga akibat kelalaian pihak PT Maju Aneka Sawit (MAS) Bakung Estate, seorang anak AO ( 12 ) yang merupakan anak dari MI yang tak lain salah seorang karyawan di perusahaan tersebut meninggal dunia akibat tenggelam di kolam bekas penyiraman pembibitan milik perusahaan dimaksud pada Tanggal 31 Desember tahun 2019 lalu.

Orang tua korban merasa keberatan terhadap perusahan yang sampai saat ini tidak ada itikad baik untuk bertanggung jawab atas insiden tersebut. Sehinga keluarga korban mengadukan hal ini kepada anggota DPRD Kotim dari Dapil V M Abadi.

“Saya selaku paman korban kakak dari ayah korban merasa keberatan, pihak perusahaan ini tidak bertanggung jawab sama sekali, dari proses awal justru para karyawan yang dimintai patungan uang untuk disumbangkan atas meninggalnya keponakan saya, bahkan membawa jenazah korbanpun dari perusahaan menuju Desa Tangar, yang seharusnya menggunakan ambulance tidak di pinjamankan, sehingga kami harus menggunakan mobil pikup,” kata Lamri menceritakan kejadian saat itu kepada intim news.com, Sabtu 1 Agustus 2020.

Iklan Tengah Berita KPU

Untuk mencari keadilan Lamri bersama pihak keluarganya di dampingi sekertaris Desa Tangar, Suwandi bertolak ke Sampit untuk menemui M Abadi yang merupakan anggota dewan dari Dapil V tersebut, dengan harapan agar kasus ini bisa ditindaklanjuti sesuai dengan peraturan yang ada di Negara ini.

“Kami menemui pak Abadi selaku wakil kami dari dapil V ini, untuk menindaklanjuti kasus ini, terutama atas perbuatan perusahaan yang tidak bertanggungjawab atas kejadian itu, dan kami merasa harga diri kami sudah dinjak-injak oleh PT MAS ini,” kata Lamri.

Menanggapi hal ini M Abadi yang merupakan Ketua Fraksi PKB DPRD Kotim itu langsung marah. Menurutnya kasus ini akan di bawa keranah hukum lantaran adanya dugaan-dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh PT MAS tersebut, terutama di kolam bekas penyiraman pembibitan yang tak lain merupakan Tempat Kejadian Perkara (TKP) AO meninggal dunia yang dinilai tidak ada rambu-rambu K3 atau sefty.

“Maka dengan adanya kejadian ini dan dengan data-data yang saya pegang saat ini perusahan diduga melanggar ketentuan
Pasal 359 KUHP, yang nantinya akan kita bawa ke ranah hukum, dimana dalam pasal 359 itu disebutkan, barangsiapa karena kelalaiannya menyebabkan orang lain mati, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun,” katanya ditemui dikediamannya saat menerima aduan dari pihak keluarga korban hari ini.

Abadi juga menekankan bahwa rambu-rambu k3 ini adalah tanda informasi yang bersifat himbauan, peringatan, maupun larangan yang ditujukan untuk mengendalikan, mengatur, dan melindungi keselamatan dan kesehatan para pekerja dan orang lain yang berada di tempat kerja, sehingga fungsinya menetralisir terjadinya kejadian-kejadian seperti yang sudah terjadi menimpa AO tersebut hingga meninggal dunia.

“Perlu kami sampaikan bahwa rambu K3 ini menjadi bagian penting dari penerapan SMK3 di perusahaan. Sesuai PP No. 50 Tahun 2012, perusahaan wajib memasang rambu-rambu K3 sesuai dengan standar dan pedoman teknis dan ketentuan UU No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, Pasal 14 huruf (b) juga disebutkan bahwa pengurus diwajibkan memasang dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua gambar keselamatan kerja yang diwajibkan dan semua bahan pembinaan lainnya, pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli Keselamatan Kerja,” pungkasnya.

Dia juga sangat menyayangkan adanya kejadian ini sehingga menelan korban jiwa yang diakibatkan adanya kelalaian dari pihak perusahaan tersebut. Dia meminta agar kasus ini menjadi perhatian aparat penegak hukum untuk memproses dugaan kelalaian tersebut nantinya.(Adrianus )

Iklan Tengah Berita KPU

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.